0

Warga Hibahkan Tanah Bangun 5 USB

Jumat, 26 Sep 2008,
SMP di Pulau Sabu

SABU, Timex-Salut buat warga masyarakat di Pulau Sabu, Kabupaten Kupang. Demi mendukung program pembangunan pendidikan dan masa depan anak didik di pulau terjauh dari ibukota Kabupaten Kupang itu, sejumlah warga dengan rela dan iklas menghibahkan tanahnya untuk ...
pembangunan lima unit sekolah baru (USB) SMP. Lima USB yang akan dibangun tersebut mendapat alokasi dana sebesar Rp 6,5 miliar, yang merupakan dana bantuan dari pemerintah Australia, Pemerintah RI melalui Pemprov NTT dalam hal ini Dinas P & K NTT.

Kelima sekolah baru yang akan dibangun itu, yakni yakni SMPN 4 Sabu Barat di desa Raekore, SMPN 2 Sabu Tengah di desa Loboaju, SMPN 2 Sabu Liae di Desa Deme, SMPN 2 Hawu Mehara di desa Daieko, dan SMPN 3 Hawu Mehara di desa Pedarro. "Masing-masing USB SMP mendapat dana sebesar Rp 1,3 Miliar dalam tahun anggaran (TA) 2008/2009," kata Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu kepada Timor Express ketika melakukan kunjungan kerja ke Desa Raekore, tanggal 17 September lalu.

Saat kunjungan itu, Camat Wempy Imanuel Riwu, meninjau lokasi yang akan digunakan untuk pembangunan USB SMPN 4 Sabu Barat.

Kunjungan itu, kata Camat Riwu sebagai bentuk penghormatan sehubungan dengan telah diserahkannya surat tanah oleh Musa Lede selaku pemilik tanah sekaligus ketua suku di Raekore sebagai hibah untuk pembangunan USB SMPN 4 Sabu Barat. "Lokasi atau lahan untuk membangun SMP ini sudah dipatok batas-batasnya, dan siap dibangun. Tinggal dananya terealisasi, pekerjaan proyek sudah bisa dimulai," ungkap Camat Wempy Imanuel Riwu. yang menambahkan, dana sebesar Rp 1,3 miliar itu untuk membangun 9 ruangan kelas, kantor sekolah, ruangan kepala sekolah, ruang kerja guru, aula dan labotarium sekolah.

Sementara itu, pemilik tanah Musa Lede menjelaskan, semua surat tanah yang berhubungan dengan hak kepemilikan tanah sudah diserahkan kepada pemerintah melalui Kadis P dan K NTT beberapa waktu lalu. "Kami menyerahkan tanah ini dengan maksud untuk mendekatkan pelayanan pendidikan khususnya SMP bagi anak-anak kami. Maklum, anak-anak kami yang tamat SD dan mau melanjutkan ke SMP harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Karena itu, dengan diserahkannya tanah ini, kami berharap pembangunannya segera direalisasikan," pinta Musa Lede.
Dengan dibangunnya USB SMPN 4 Sabu Barat, kata Musa Lede, para lulusan dari SD Negeri Maballa Raekore, SD Negeri Luipau Raekore, SD Inpres Delo, SD Negeri Eiwou Kecamatan Sabu Barat, SD Negeri Matei Kecamatan Sabu Tengah, sebagian anak dari SD Negeri Bebae dan SD Negeri Deme Kecamatan Sabu Liae tidak perlu jauh-jauh mencari SMP hingga ke Seba, tapi bisa di SMPN 4 Sabu Barat.

"Letak SMPN 4 Sabu Barat sangat strategis sebab berada di tengah-tengah tiga kecamatan di pulau Sabu," jelas Musa Lede.
Hasil pantauan koran ini beberapa lokasi pembangunan seperti SMPN 2 Sabu Tengah di Desa Loboaju, SMPN 2 Sabu Liae di Desa Deme, SMPN 2 di Desa Daieko dan SMPN 3 di desa Pedarro keduanya di Kecamatan Hawu Mehara, sudah siap untuk dilaksanakan. Ini karena pemilik tanah sudah menyerahkan lokasi tanah untuk pembangunan SMP tersebut.

"Warga sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Karena itu, mereka sudah merelakan tanahnya untuk dibangun sekolah. Karena itu, kami berharap dananya cepat direalisasikan sehingga pembangunannya bisa berjalan," kata tokoh masyarakat di Seba, Kaleb Kana Lomi dan tokoh masyarakat Sabu Liae, Leonidas Penu Weo saat ditemui bersama.
0

Potensi SDA di Pulau Sabu Harus Digarap

Selasa, 16 Sep 2008,
Kunker Bupati Medah dan Rombongan ke Sabu-Raijua

SABU, Timex - Bupati Kupang, Ibrahim A Medah didampingi istri, Ny Corry Medah beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke Sabu-Raijua selama empat hari, terhitung 12 September hingga 15 September.
Medah beserta rombongan yang tiba di bandara Terdamu Seba disambut lima camat se-Daratan Sabu. Lima Camat itu antaranya, Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu, Camat Hawu Mehara, Dominggus Widu Hau, Camat Sabu LiaE, Herman Kaho, Camat Sabu Timur, Simon P Moneheme beserta pejabat teras lingkup Sabu-Raijua.

Bupati dan rombongan disambut dan langsung menuju rumah jabatan Camat Sabu Barat Wempy Imanuel Riwu, yang dilanjutkan melakukan kunjungan ke Desa Wadumeddi Kecamatan Hawu Mehara. Kunjungan ini disambut ribuan warga dari 10 desa di kecamatan itu.

Medah sangat berterima kasih untuk semua kerjasama yang telah terjalin selama ia menjabat sebagai Bupati Kupang dua periode. Medah dalam tatap muka dengan masyarakat Hawu Mehara mengatakan, pulau Sabu jika dilihat dari PAD sangat minim, namun pulau Sabu sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Banyak SDA yang belum digarap secara maksimal.

Karena menurut Medah, pulau Sabu selain komoditas rumput laut yang bagus, ada juga kekayaan alam yang belum tergarap seperti batu mangan, gas alam serta potensi pariwisata yang dimiliki masyarakat Sabu.

Bupati Medah mengatakan, untuk mencapai suatu kesejahteraan masyarakat Sabu, maka ada tiga hal bidang pembangunan yang perlu menjadi fokus utama diantaranya, bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Semasa kepemimpinannya, Medah melihat bahwa hanya Kabupaten Kupang satu-satunya kabupaten yang berani mengalokasikan dana melalui APBD II untuk dikelola secara langsung melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) untuk menuju masyarakat mandiri dan sejahtera, ketimbang langsung memberikan dana kepada rekanan yang akan memperoleh keuntungan untuk dirinya sendiri.

"Jadi, program pemberdayaan bertujuan selain untuk mensejahterakan masyarakat, namun juga untuk memberikan lapangan kerja kepada masyarakat,” papar Medah. Untuk itu, Bupati Medah menegaskan, potensi SDA di pulau Sabu harus digali dan dikelola untuk masyarakat di desa yang ada.

Medah dalam kunkernya melihat potensi batu mangan, pohon lontar yang dapat dijadikan potensi komoditi SDA yang bagus untuk dikelola. Terwujudnya impian itu, Medah menghimbau kepada seluruh masyarakat Sabu-Raijua untuk bahu-membahu membangun Sabu.
0

Harga Beras di Sabu Naik, Kupang Stabil

Rabu, 03 Sep 2008

SABU, Timex--Memasuki Lebaran harga sembako khususnya beras di Pulau Sabu dan Raijua Kabupaten Kupang melonjak naik. Sekarang harga beras 25 kg Rp.170 ribu sedangkan 50 kg dijual Rp 340 ribu atau rata-rata Rp6.800/kg.
Ihwal kenaikan harga beras ini dikeluhkan warga Sabu, Is Djami Hau, Ina Para Miga dan Ama Henry Gie yang ditemui Timor Express di pasar Seba, Selasa (2 September) kemarin.
Baik Is Djami Hau, Ina Para Miga dan Ama Henry Gie mengaku kenaikan harga beras bisa menjadi Rp.7.500/kg.

Kondisi ini berawal sejak awal Agustus lalu dimana kapal pengangkut beras asal Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengggara tak beras ke Pulau Sabu-Raijua. "Dalam minggu ini, kalau tidak ada kapal dari Sulawesi yang datang untuk pemasokan beras di Sabu, maka akan terjadi kelangkaan hebat dan harga beras yang masih sisa dipedagang/pengecer tentu beras diprediksi naik lagi dari Rp.7.500/kg menjadi Rp.8000/kg," ungkap ketiga warga ini.

Warga Sabu kata mereka sangat kuatir dengan keadaan yang terjadi. Kelaparan akan melanda masyarakat Sabu dan Raijua. Dimana hampir 90 persen, warga mengkonsumsi beras.
Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu melalui Kepala Seksi Ekonomi Kecamatan Sabu Barat, Obed Pay ketika ditemui Timor Express di Seba menjelaskan, terjadinya kelangkaan beras di Sabu khususnya di Seba pasalnya, tidak ada kapal pengangkut beras milik saudagar Bugis (Sulawesi) ke Sabu.

Warga kata dia, sangat mengharapkan Pemkab Kupang dapat memasok beras dari Bulog Kupang untuk persediaan beras bagi warga Sabu Raijua. Obed Pay menambahkan pemasok beras di Sabu adalah beras antar pulau yang dibawa oleh perahu Sulawesi. Sedangkan beras Dolog hanya datang melalui program Raskin yang diterima peserta Raskin saja.

Sementara hasil pantaun koran ini di Pasar Kasih Naikoten, Selasa (2 Agustus) menjelang Lebaran harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, tepung terigu, minyak goreng, kerupuk, kacang ijoh masih stabil.

H. Usman, pedagang di Pasar Kasih mengaku harga beras jeruk Rp 130.000/karung 20 kg, harga eceran Rp 7.000/kg, beras nona kupang Rp 215.000/karung 40 kg, harga eceran Rp 5.500/kg. Beras gudang Rp 210.000/karung 40 kg, eceran Rp 5.000/kg sedangkan beras mol eceran Rp 5.000/kg. "Untuk beras mol kita jual eceran saja karena kita beli juga secara eceran dan terkadang satu karung belum jelas ukurannya," ujarnya.

Sedangkan minyak goreng (migor) merk bimoli dijual sesuai dengan ukurannya untuk ukuran satu liter Rp 15.000, ukuran dua liter Rp 28.000 dan ukuran lima liter. Migor merk Filma satu liter Rp 15.000 dan dua liter Rp 28.000 dan Mmgor Alibaba ukuran lima liter dijual Rp 60.000.

Harga gula pasir Rp 7.000/ kg, terigu Rp 7.500/ kg, harga kacang ijo Rp 8.000/ kg, kacang tanah Rp 14.000/kg, kerupuk udang Rp 10.000/ kg dan kerupuk kentang Rp 15.000/ kg. "Harga-harga barang ini belum mengalami kenaikan" kata H. Usman pemilik kios B 12 di pasar Kasih Naikoten.
0

Kantor Desa Raemude Terbakar

Rabu, 20 Aug 2008

KUPANG, Timex – Kantor Desa Raemude yang terletak di Dusun I Eiwou Kecamatan Sabu Barat, Sabtu (16 Agustus) sekitar pukul 24.00 Wita terbakar. Akibatnya, kantor desa yang jauh dari pemukiman itu rata tanah. Tidak ada barang yang dapat diselamatkan.
Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu kepada Timor Express melalui saluran telpon, Minggu (17 Agustus) menjelaskan, terbakarnya kantor Desa Raemude secara kronologis tidak diketahui warga yang tinggal disekitar balai desa. Hanya saja, Minggu (17 Agustus) sekitar pukul 00.30 Wita, baru warga mengetahui ada kobaran api yang menyala membumbung tinggi.

Ketika ditelusuri, ternyata api tersebut berasal dari kantor Desa Raemude yang sudah terbakar.
Tidak ada satu barang investaris desa maupun buku-buku administrasi dalam kantor desa yang terselamatkan, karena letak kantor desa jauh dari pemukiman penduduk dan jauh dari sumber mata air. Hal ini menyebabkan warga yang datang hendak menolong hanya bisa menonton saja. Sebab, seluruh kantor desa sudah dikuasai api.

“Barang-barang seperti empat puluh kursi plastik, tiga meja biro, lima bangku panjang, tiga lemari buku, puluhan papan kayu jati dan buku-buku administrasi desa semuanya ikut terbakar. Kecuali sebuah mesin tik yang tidak ikut terbakar karena selama ini mesin tik tersebut sementara berada dirumah sekertaris desa. Setelah diteliti ke TKP oleh aparat keamanan dan Polisi Pamong Praja dari kecamatan, untuk sementara kantor Desa Raemude itu diduga dibakar orang,” beber Riwu.

Dikatakan, mulai kemarin, kegiatan kemasyarakatan dan pemerintahan desa dilaksanakan untuk sementara diruang konsistori Gereja GMIT Imanuel Eiwou-Raemude, setelah dirinya sebagai camat melakukan pendekatan dengan pendeta dan badan harian Gereja Imanuel Eiwou-Raemude.

Salah seorang Kaur Pembangunan Desa Raemude, Frans Moa yang dihubungi mengatakan, dirinya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sabu Barat di Seba dan ke Camat Sabu Barat. Menurut Moa, warga baru mengetahui ketika terdengar bunyi letupan kecil dan ada asap tebal yang menyengat hidung warga yang sementara tidur.

Diceritakan, ketika warga desa keluar rumah dan mengecek asal asap dan bunyi letupan, ternyata asal api dari kantor desa yang tengah terbakar. “Di Desa Raemude belum ada jaringan listrik yang masuk, jadi kemungkinan besar kantor desa tersebut ada orang atau oknum yang sengaja membakar diwaktu tengah malam sementara penduduk desa sedang tidur lelap,” duganya.

Kapolsek Sabu Barat, Ipda Wahyu Hidayat yang dikonfirmasi secara terpisah mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari aparat desa tentang peristiwa terbakarnya kantor Desa Raemude. Dikatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan dan mengumpul data lapangan.
0

Sabu-Raijua Berpotensi Besar Jadi Kabupaten

Sabtu, 16 Aug 2008,
Pemkab Kupang Siapkan Dana Untuk Kabupaten Sabu-Raijua

KUPANG, Timex – Hasil survei tim Dewan Pengkaji Otonomi Daerah (DPOD) Departemen Dalam Negeri (Depdagri) bersama Wakil Bupati Kupang, Ruben Funay ke Sabu belum lama ini, menyebutkan, Sabu-Raijua mempunyai potensi yang tinggi menjadi suatu daerah otonomi. Karena itu, perlu dipertimbangkan dan ditingkatkan statusnya dari kecamatan menjadi daerah otonomi atau kabupaten. Atas nama Menteri Dalam Negeri, Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Sudjuangon Sitomorang memerintahkan Sekertaris Ditjen Otonomi Daerah, Ujang Sudirman sebagai ketua tim DPOD Depdagri bersama tujuh orang personil yang merupakan tim DPOD dan Penataan Daerah Pemekaran Wilayah yang dikethuai Ujang Sudirman sebagai Sekertaris Dirjen Otda, Siti Zahro Kasubdit Penataan Daerah dan Otonomi Khusus Wilayah I, Letkol (Inf) A Robert Rury Dit PPKBN Ditjen Polhutkam Dephan, Ahmad Yani Kasubdit Penataan dan Pengembangan Kapasitas Daerah, Anton Tarigan Kasubdit pada Bappenas, Darwis Sitinjak Kasie pada Subdit Penataan Daerah Pemekaran Wilayah I, Hestiany staf pada Subdit Penataan Daerah Pemekaran Wilayah I dan Ikhsan sebagai tim pengkaji melakukan survei di Sabu.

Tim DPOD tidak mempunyai wewenang untuk menyatakan Sabu-Raijua layak menjadi Kabupaten. Tapi dengan data yang ada serta survei lokasi yang dilakukan oleh tim DPOD, tim melihat adanya potensi yang besar dari Sabu-Raijua menjadi daerah otonomi.

Demikian penjelasan ketua tim DPOD, Ujang Sudirman yang juga adalah Sekertaris Dirjen Otonomi Daerah (Otda), Kamis (14 Agustus) malam di rumah jabatan Bupati Kupang, Ibrahim A Medah.

Dikatakan, dari data yang ada di tim DPOD tentang wilayah Sabu-Raijua, ternyata tidak beda dengan apa yang mereka lihat langsung di lapangan. Sabu-Raijua mempunyai potensi yang sangat besar, baik itu dari wilayah, manusia serta perekonomian, infrastruktur dan sarana prasarana yang baik serta pariwisata.

Untuk itu diharapkan agar calon bupati yang nantinya akan memimpin Sabu-Raijua harus mempunyai integritas yang tinggi. Karena, Sabu-Raijua mempunyai potensi yang besar. Dengan demikian, hasil survei ini akan dilaporkan ke Depdagri serta DPR RI untuk diperjuangkan ke Presiden secepatnya untuk membentuk Kabupaten Sabu-Raijua.

Selain itu tegas Sudirman, kabupaten induk yakni Kabupaten Kupang harus menyiapkan anggaran untuk selama beberapa tahun dalam menopang kabupaten baru. Sementara itu, Bupati Kupang, Ibrahim A Medah sebelum memaparkan potensi yang ada di Sabu-Raijua mengucapkan terima kasih kepada tim DPOD yang telah bersedia melakukan survei ke Sabu-Raijua. Dipaparkan, Kabupaten Kupang telah melahirkan dua kota yaitu Kota Kupang dan Kabupaten Rote Ndao. Kota Kupang tahun 1996 dan Rote Ndao tahun 2002.

Keduanya berhasil mandiri. Sedangkan, menuju Sabu-Raijua yang mempunyai potensi yang sangat besar baik itu pertanian, sumber daya alam serta sumber daya manusia.
Medah mengatakan, dengan melahirkan satu lagi kabupaten baru, bukan berarti Kabupaten Kupang tidak melihatnya.

Dimana, kabupaten induk (Kabupaten Kupang, red) telah menyediakan dana untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada, ketika Kabupaten Sabu-Raijua dibentk. Potensi yang paling besar sekarang ini diantaranya rumput laut, gula lontar, energi gas dan minyak bumi serta mangan yang depositnya sangat besar apabila dieksploitasi. Sabu-Raijua mempunyai enam kecamatan dengan jumlah desa 58 serta lima kelurahan dengan jumlah penduduk 91.870 jiwa.

Sementara itu, Wakil Bupati Kupang, Ruben Funay mengatakan, dirinya sangat optimis, Kabupaten Sabu-Raijua akan terbentuk dalam tahun ini. "Saya sangat optimis dengan potensi yang ada di Sabu-Raijua dan itu dalam tahun ini Kabupaten Sabu-Raijua sudah dapat dibentuk," ujarnya seraya menambahkan, dalam survei bersama tim DPOD, Sekertaris Dirjen Otonomi Daerah (Otda) sekaligus ketua tim PDOD, Ujang Sudirman mengatakan, data yang ada dilapangan tidak ada perbedaan, itu menunjukan, Sabu-Raijua mempunyai potensi yang perlu ditingkatkan menjadi daerah otonomi.

Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu yang dihubungi Timor Express melalui telpon selulernya di Seba, Jumat kemarin menjelaskan, kedatangan tim PDOP didampingi Wakil Bupati Kupang, Ruben Funay disambut enam camat daratan Sabu-Raijua bersama ribuan warga masyarakat Sabu-Raijua di bandara Terdamu Seba.

Rombongan diterima secara adat Sabu dengan 'cium hadha do hawu' (cium persahabatan Sabu, red) oleh gadis-gadis Sabu dan pengalungan selimut Sabu. Juga disambut tarian Ledo Hawu dan Pehere Jara sebagai tanda terima kasih masyarakat Sabu terhadap tamu yang datang di tanah Sabu.

Riwu mengatakan, rombongan bertemu enam camat se-Daratan Sabu-Raijua di rumah jabatan Camat Sabu Barat di Seba, kemudian menuju istana Tenihawu Raja Seba yang cikal bakal menjadi kantor bupati sementara, meninjau kantor Camat Sabu Barat, lokasi calon ibukota Kabupaten Sabu-Raijua, lokasi kompleks RSUD Sabu-Raijua di Menia, kantor Camat Sabu Tengah, kantor Camat Sabu Timur, lokasi sumber air Loko Eimada Bolou, dermaga Biu di Limagu Sabu Timur dan kantor Camat Sabu Liae di Eilogo.

"Peninjauan ke kantor Camat Hawu Mehara dan ke lokasi potensi mangan dan rumput laut di pantai Lederaga dan pantai Lobohede Kecamatan Hawu Mehara tidak jadi dilaksanakan karena sudah di buru waktu. Tepat pukul 15.00 Wita, rombongan sudah terbang ke Kupang," papar Wempy Imanuel Riwu.
0

Penyelesaian Pilkades Ledeana Tergantung Hasil Kesepakatan

Jumat, 15 Aug 2008

KUPANG, Timex - Kepala Bagian (Kabag) Hukum Setda Kabupaten Kupang, JR Djami menegaskan, masalah pemilihan kepala desa (pilkades) Ledeana Kecamatan Sabu Barat yang terkesan berlarut larut yang akhirnya... menjadi polemik panjang, karena ketika berproses sejak awal, sudah berangkat dengan kesalahan dalam pembentukan panitia penjaringan calon kepala desa.
Hal itu diungkapkan Djami ketika ditemui Timorr Express diruang kerjanya, Kamis (14 Agustus) kemarin.

Menurut Djami, semua laporan mengenai pilkades Ledeana sudah diterima, tetapi karena ada masalah dilapangan yang satu pihak (kubu yang menang pilkades, red) setuju di proses SK pengangkatan kepala desa oleh Bupati Kupang, sedangkan di satu pihak yang kalah dalam pilkades tetap ngotot tidak menerima kekalahan dan tidak mau menandatangani hasil pemilihan.

Hal ini mengakibatkan, kedua kubu calon kepala desa yang bermasalah saling tuding dan tidak ada yang mau mengalah. Kalau saja kedua belah pihak itu bermusyawarah dan sepakat, tentu masalah SK SK penetapan dan pengangkatan kepala desa sudah lama terbit yang ditandatangani Bupati Kupang.

“Saya dengar bapak bupati sudah meminta Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu untuk memfasilitasi masalah pilkades Ledeana antara kades terpilih, Hawu Herewila dan Martontje Djada Tiry calon kades yang kalah dalam pemilihan, tetapi hasilnya belum maksimal.

Kalau ditinjau dari sudut hukum, maka proses pilkades Ledeana itu sudah salah langkah sejak awal berproses. Yakni ketika BPD Ledeana membentuk dan memilih ketua panitia pilkades, ternyata Marthen Herewila adalah warga Desa Raedewa, tetangga Desa Ledeana.

“Jadi ketua BPD Ledeana seharusnya penduduk tetap yang tinggal di Desa Ledeana, itu sudah permintaan dan kriteria Perda Kabupaten Kupang Nomor 9 tahun 2006 yang mestinya ditaati oleh semua pihak,” tegas Djami.

Dikatakan, masalah pilkades Ledeana tergantung kedua belah pihak. Kalau keduanya merujuk dan ada kata sepakat menerima hasil pilkades, 5 Februari lalu, maka Pemda siap menerbitkan SK penetapan dan pelantikan kades.

Tapi kalau salah satu tetap bersikukuh tidak mau mengalah, sudah tentu kasus pilkades Ledeana diulang dan pejabat sementara (karateker, red) kades diangkat untuk menempati jabatan yang lowong dan pejabat karateker adalah orang kecamatan yang ditunjuk oleh Camat Sabu Barat.

Sementara, Kabag Pemdes Setda Kabupaten Kupang, Octo Radja Pono mengatakan, laporan Camat Sabu Barat sudah diterima berupa tembusan ke Pemdes, karena laporan camat ditujukan langsung ke Bupati Kupang.

“Walau demikian, kami tetap memberikan telaahan dan kronologis pilkades Ledeana kepada bupati melalui Sekda Kabupaten Kupang. Jadi kami tetap menunggu keputusan bapak Bupati Kupang sebagai solusi jalan terbaik untuk menjawab masalah pilkades Ledeana,” katanya.
0

Pilkades Ledeana Ada Kesalahan

Senin, 11 Aug 2008

KUPANG, Timex – Kepala Bagian Pemerintahan Desa (Kabag Pemdes) Setda Kabupaten Kupang, Octo Radja Pono yang ditemui Timor Express diruang kerjanya, Sabtu (9 Agustus) menegaskan...
laporan hasil pemilihan kepala desa (pilkades) Ledeana Kecamatan Sabu Barat, 5 Februari lalu, sudah diterima dari Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu, berdasarkan surat keputusan (SK) BPD dan ketua panitia pilkades Ledeana.

“Memang ada kesalahan fatal kalau kita mau akui secara jujur yang harus dipikul oleh ketua BPD Ledeana, Henny Senchkuisen dan ketua panitia pilkades, Marthen Here Wila yaitu, ketua BPD Ledeana tidak pernah memberi surat peringatan kepada kades supaya kepala Desa Ledeana, Hawu Herewila sudah harus mengajukan laporan pertanggungjawaban (LPj) dan mengajukan surat pengundurkan diri sebagai kepala desa sekurang-kurangnya enam bulan sebelum masa jabatan berakhir.

Hal itu dibiarkan berlalu saja tanpa beban, kemudian kades yang sudah purna bakti masih mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan yang kedua kali dan yang membuat fatal adalah ketua panitia pilkades Ledeana, Marthen Herewila bukan warga Desa Ledeana tetapi adalah warga Desa Raedewa yang ikut bermain dalam proses pilkades Ledeana,” kata Radja Pono.

Dikatakan, yang paling bertanggungjawab adalah ketua BPD Ledeana yang sengaja memasukan orang dari luar desa menjadi ketua panitia, sehingga hasil akhir pilkades menjadi kisruh dan menjadi polemik panjang. Semua proses pilkades akhirnya dikembalikan ke bawah (BPD Ledeana, red) sesuai permintaan Bupati Kupang supaya Camat Sabu Barat dapat memfasilitasi masalah tersebut.

“Memang dalam Perda Kabupaten Kupang Nomor 9 tahun 2006 tidak terdapat satu butirpun mengatakan ada pemilihan ulang. Kalau dalam perjalanan proses pilkades ada kesalahan, maka seluruh proses dinyatakan gugur. Kemudian Camat setempat harus mengangkat kareteker kepala desa untuk mempersiapkan calon kades lain.

Tentu yang sangat berperan adalah BPD harus membentuk panitia pemilihan kepala desa dan jangan pakai orang dari luar desa menjadi ketua atau anggota panitia. Karena hal itu akan menjadi rawan potensi kekacauan,” tegas Radja Pono yang juga Kadis Koperasi UKM Kabupaten Kupang ini.